The Crown Prince's Woman [PART I]


Spesial Chapter “The Crown Prince’s Woman” [Part 1]

By Ellena Nomihara

 

Di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan hutan, berdiri tenda-tenda dengan banyak prajurit berlalu-lalang. Bendera berlambangkan kekaisaran Neosantara berkibar diterpa angin.

Ini adalah masa Raja Amato vir Mechamato. Neosantara sedang berperang dengan kerajaan TieMorLeste dalam rangka menundukkan kerajaan tersebut dan memperluas wilayah. Raja Amato adalah penguasa yang cukup ambisius. Dia menginginkan kerajaa n TieMorLeste menjadi miliknya setelah sebelumnya kerajaan yang tidak lebih kuat dari Neosanatara menolak membuat aliansi.

Perang kali ini di pimpim oleh para pangeran Neosantara. Pangeran Mahkota Halilintar vir Mechamato dan Pangeran Taufan vir Mechamato yang baru berusia tujuh belas tahun (Taufan belum jadi Duke atau jendral). Saudara kembar ini diberi tugas oleh Ayah mereka untuk memenangkan perang ini sekaligus menambah pengalaman. Sementara Pangeran Gempa ditugaskan menjadi diplomat dengan kerajaan lain untuk menjalin aliasi yang menguntungkan Kekaisaran.

Di dalam tenda paling besar, sebuah pertemuan tengah berlangsung. Seluruh petinggi militer Kekaisaran Neosantara hadir, termasuk kedua pangeran.

“Kita akan mengirim pasukan kecil untuk mengintai perkemahan musuh. Pang,” sesosok dari bayangan bergerak cepat dan muncul berlutut kepada sang tuan, “Kau yang memimpin. Aku tidak mengharapkan kegagalan, Pang.” Perintah Pangeran Halilintar dingin.

“Saya akan melaksanakan yang terbaik, Tuanku.”

“Pergi.”

Pang ialah sosok yang bergerak dalam bayangan. Kemampuan sangat menjanjikan terlebih dalam spesialis memata-matai. Karena itu, Pang selalu bergerak cepat dan diam. Datang dan pergi layaknya malam yang hening.

“Jendral Zoland, berkat anda, pusukan kita berhasil menghabisi lebih dari seperempat wilayah musuh tanpa korban di pihak kita. Pencapaian anda akan membuat senang Yang Mulia Raja.” Puji Halilintar pada salah satu jendral. Meski nada suaranya datar namun orang-orang disana tahu bahwa pangeran satu ini benar-benar tulus memuji sang jendral.

Jendral Zoland lantas tertawa keras layaknya pemabuk tua, “HA-HA-HA! Terima kasih Yang Mulia. Anda terlalu memuji saya.” Usai berkata begitu pria baya bertubuh besar itu kembali tertawa congkak. Kentara dia senang kontribusinya dinilai tinggi oleh keluarga kekaisaran. Sudah pasti nama keluarga nya akan semakin melambung tinggi, terlebih di dunia militer.

“Tertawa terlalu keras, Zoland.” Tegur pria berwajah keras, dia adalah Jendral Tar-Rung. Jendral paling kuat serta merupakan guru beladiri para pangeran.

Jendral Koochi, pria paling pendek diantara para jendral ikut menyahut, “Lagakmu seperti sudah memenangkan perang ini sendirian saja, Jendral Zoland.”

Jendral Zoland tersenyum remeh, “Kalian cuma iri, HA-HA-HA.”

Taufan, yang berdiri disamping Halilintar, menyenggol pelan kembarannya, “Tidak kak Hali hentikan?” bisik nya. Pemadangan seperti ini sebenarnya biasa. Persaingan antar Jendral besar Neosantara sudah terkenal luas. Mereka berusaha membuat prestasi dan membuat bangga keluarga serta pasukan masing-masing.

Halilintar melipat tangannya di depan dada seraya bersandar pada punggung kursi. Dia menatap diam celotehan para orang tua paling kuat Kekaisaran yang kini sedang saling melempar hinaan seperti anak kecil.

Siapa bilang bertambah umur akan menambah kebijaksanaan? Faktanya para orang tua itu bertambah tua justru semakin tidak tahu malu.

Yahh…tidak semuanya sepertinya. Mata merah Halilintar melirik Jendral Kai, jendral yang belum lama diangkat. Dia yang paling muda dan paling pendiam. Mungkin karena ada jarak umur dengan jendral lainnya. Jendral Kai tidak terlalu akrab. Meski muda, kehebatan jendral satu ini mengagumkan hingga Halilintar cukup puas dengan kekuatannya.

“Yang Mulia Pangeran Halilintar, apa yang kita lakukan dengan para tahanan perang?” saat suasana kembali terkendali, Jendral Kai bertanya. Dia dan pasukannya yang bertugas menangkap para tahanan perang serta memisahkan mereka dalam beberapa kategori.

Halilintar menoleh pada saudaranya, “Taufan. Kau yang urus.” Titahya sekenanya.

Tuafan mencibir dalam hati. Dia tahu kakak kembarnya ini tidak mau repot-repot mengurus tahanan perang yang sedemikian banyaknya itu, tapi sudahlah untung dia adik yang baik, “Baiklah. Biar aku yang urus.”

“Tidak akan ada penyerangan dalam dua hari. TieMorLeste butuh waktu lama mengumpulkan orang untuk membalas kita. Gunakan waktu ini untuk memperbanyak senjata dan mengumpulkan persediaan makanan. Sembuhkan juga prajurit kita yang terluka.”

Setelah itu, seluruh Jendral membubarkan diri.

“Kak Hali—ADOH! Kenapa memukulku, bajingan—DUH!” Taufan meraung pada kembarannya karena dengan seenaknya menendang dirinya hingga terguling ke tanah.

“Kepalamu yang selanjutnya ku tendang jika masih berani memanggilku dengan panggilan menggelikan.” Ancam Halilintar kejam pada Taufan. Tangan yang dia gunakan untuk memukul sang adik, dengan santai meraih kopi hitam miliknya yang sudah dingin.

“Dasar kembaran keparat sialan.” Umpat Taufan blak-blakan. Mulut Taufan saat muda memang kasar. Dia sangat ahli mengumpat layaknya bajak laut. Meski begitu, di masa depan keahlian itu mengurang banyak setelah menikah dan memiliki anak.

Halilintar mendengus kecil. Tidak ambil pusing diumpati Taufan—sudah hafal kekurang-ajaran nya.

“Kak Hali—Kak Halilintar! Karena kau memberiku wewenang mengurus tahanan perang kita, jadi aku boleh menggunakan beberapa dari mereka?” tanya Taufan yang menuai kernyitan tidak mengerti dari sang pangeran mahkota.

“Ada penduduk desa yang kita ambil sebagai tahanan, rencana awal mereka akan dibebaskan setelah kita menguasai TieMorLeste. Tapi aku berpikir menggunakan beberapa budak wanita untuk ku dan prajurit.” Jelas Taufan berterus terang.

Ini adalah masa perang. Dimana penghuni atau penduduk wilayah yang telah di tundukkan menjadi tahanan perang. Ada seperempat wilayah TieMorLeste yang sudah di taklukkan dan penduduknya sudah ditandai menjadi milik Kekaisaran. Mereka adalah budak sebelum ada pernyataan resmi Neosantara membebaskan mereka dan menjadi warga Neosantara yang sah.

Para tahanan adalah budak. Meski sangat kasar, itu adalah kenyataan. Pernyataan Taufan tidaklah asing ditelinga Halilintar. Hampir 97% pasukan ialah laki-laki sehat dan kuat. Perang bisa berjalan berbulan-bulan bahkan tahunan. Kau pikir bagaimana para pria ini menyalurkan hasrat bihari mereka?

Halilintar melarang pasukannya menggunakan warga Neosarantara secara tidak hormat, Warga Neosantara adalah rakyat yang akan dia pimpin kelak, tidak akan Halilintar biarkan mereka kotor di bawah pengawasan nya. Jadi alternatifnya ialah menggunakan para budak. Adapun kelak mereka menjadi rakyat Noesantara, mereka tidak bisa menyalahkan kekaisaran atas kemalangan mereka karena memang sudah begitu dari dulu.

“Lakukan apa yang kau mau, Taufan.” Putus Halilintar cepat. Lagipula prajurit nya juga akan senang dan cepat segar kembali.

Taufan menyeringai gembira, “Baiklah. Oh Kak, apa kau juga ingin memakai satu?”

Tangan Halilintar yang bergerak memindai kertas-kertas di atas meja terhenti. Mata merahnya menatap saudara kembarnya yang berada diambang pintu masuk—menatapnya dengan seringai menyebalkan.

“Aku sibuk.” Jawab nya cepat dan kembali pada pekerjaannya.

“Yah…terserahmu kak. Aku cuma berpikir jika kau bisa bersantai sedikit. Anggap saja melepas stress.”

Saat tidak ada respon dari sang raja masa depan, Taufan mendecih kecil dan pergi dari sana. Meninggalkan Halilintar yang mendesah kecil.

“…sialan!” umpatnya lirih saat bayangan gadis cantik merah muda terlintas begitu saja.

.

.

.

Meski tengah malam, camp Kekaisaran Neosantara tak lantas sepi aktifitas. Karena suasana perang yang mengharuskan semua orang waspada—termasuk pada serangan malam—karena itu ada pergantiaan patroli. Sementara yang lain istirahat atau melakukan kegiatan penghilang stress.

Pangeran Mahkota Neosantara, si sulung dari tiga bersaudara, mendecih seraya kembali menuangkan minum pada gelas nya. Suara-suara berisik dari seluruh penjuru camp  terdengar sangat jelas.

“Ck, harusnya aku suruh mereka melakukannya dengan mulut tertutup.” Gerutu Halilintar benar-benar terganggu dengan suara jeritan dan erangan perempuan yang tak henti terdengar setelah dia memberi Taufan wewenang.

Bosan berada di dalam tenda selama enam jam lebih, Halilintar akhirnya memutuskan untuk keluar menghirup udara segar. Malam memang sangat dingin tapi Halilintar terlalu kuat untuk jatuh sakit karena perkara sepele. Pangeran Mahkota Noesantara itu berjalan menuju sungai yang di jadikan sumber air minum dan mandi.

“Fuhh…” Halilintar mendesah menikmati air dingin yang membasahi wajah nya. Hawa dingin malam terasa segar bagi tubuhnya yang gerah di bebani armor berat. Kaos berlengan pendek dan celana panjang. Meski sederhana, wanita mana pun akan langsung gelonjota bila melihat penampilan ‘panas’ sang pewaris tahta.

Srek srek srek “Hachi!”

SING –Menebas!!

Dalam siaga perang, Halilintar tidak pernah pergi tanpa pedang nya. Tidak terkecuali kali ini, karena itu saat suara mencurigakan terdengar pria muda itu langsung menghunuskan pedang panjang nya ke arah suara.

“Keluar. Sebelum aku memutuskan hidup mu cukup sampai di sini.” Perintah Halilintar dingin kepada sosok yang di yakini nya berada di balik semak-semak.

Gemerisik semak kembali terdengar hingga tak lama kemudian sesosok manusia keluar dengan merangkak dan wajah menunduk. Meski malam, terima kasih kepada cahaya bulan purnama, Halilintar dapat melihat bahwa sosok di depannya adalah seorang perempuan. Perempuan lusuh.

Rambut panjang kecoklatan yang kusut dan menggumpal. Juga baju putih nya usang dan kotor. Sekilas mata merah nya bisa melihat beberapa luka gores dan lebam di tubuh kurus di yang bersujud di depannya ini. Atas semua itu Halilintar bisa menarik kesimpulan.

“Kau seorang budak.” Itu pernyataan. Tidak ada perempuan di camp ini selain budak jarahan dari wilayah TieMorLeste yang sudah dia takluk kan.

“Ampuni saya Tuan. Saya—saya tidak bermaksud mengganggu Tuan Kesatria. Mohon ampuni nyawa saya.” Perempuan itu memohon dengan suara bergetar. Terlihat jelas dia sangat ketakutan hingga tidak berani mengangkat wajah nya untuk melihat dengan siapa dia bersujud sekarang.

Halilintar mendengus kemudian menyarungkan pedang nya kembali. Dia kira siapa ternyata hanya seorang budak.

“Apa yang kau lakukan disini? Tempat mu berapa di barak barat.” Barak barat adalah penjara sementara untuk para tahanan. Seingatnya Barak barat berjarak agak jauh dari sungai ini dan para tahanan dan budak jelas-jelas di larang berkeliaran.

“Ini—saya…saya…Tuan—“

“Kau kabur. Benar?” Halilintar menebak tepat sasaran. Mendadak dia jengkel dengan kerja anak buahnya yang bisa-bisa nya kecolongan.

Perempuan di depannya segera memohon pengampunan, “Mohon ampuni saya Tuan Kesatria! Saya bersumpah tidak berniat jahat atau kabur. Setidaknya saat malam, mohon izin kan saya bersembunyi disini.” Pinta perempuan itu dengan putus asa. Sama-samar Halilintar mendengar isak tangis.

Halilintar yang besar dengan didikan keras lantas mendengus tidak suka dengan suara isak tangis menyedihkan perempuan di depannya. Seolah dengan begitu Halilintar akan luluh begitu saja meski sebenarnya Halilintar tidak benar-benar peduli. “Tangisanmu itu. Sebut kan alasan mu kabur. Jika aku tidak menyukai jawaban mu jangan salah kan aku untuk mengakhiri hidupmu di sini.” Sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa yang hilang oleh tebasan pedang Halilintar. Menambah satu orang tidak bersalah bukan masalah baginya.

Perempuan itu kembali tergagap, “S-Saya ka-kabur k-k-kare-na tida-k ing-in pa-ra prajurit mengguna-ka-an sa-saya.”

Hoo? Jadi perempuan ini kabur karena tahu nasib yang biasa menimpa budak wanita di masa perang? Tindakan berani namun juga sembrono. Meski secara kasar para budak wanita memang di jadikan budak nafsu para prajurit selama perang ini, namun tidak jarang terjadi kasus soerang kesatria atau prajurit menyukai budak atau tahanan tertentu dan mengangkat nya sebagai mitra bahkan istri. Selain itu, nekat pergi atau bertindak di luar kebijakan selama perang bisa mengakibatkan budak terbunuh.

Halilintar memikirkan tindakan selanjutnya yang akan dia ambil.

“Angkat wajah mu.” Perintah Halilintar kemudian.

Budak perempuan itu tidak memiliki hak untuk menolak. Dia sangat tidak berdaya untuk melawan pria kuat di depannya. Maka dengan ragu dan tubuh bergetar dia mengangkat wajah nya. Perlahan dengan bantuan sinar bulan, wajah yang sedari tadi menghadap tanah terlihat oleh mata merah penuh kuasa tersebut.

“T-Tuan…?”

Untuk sejenak Halilintar terpaku. Mata merah nya menatap dengan teliti wajah kecil di depannya. Wajah budak itu kotor dan kusam. Bibirnya kering dan berdarah. Sama sekali tidak menarik. Tapi entah bagaimana Halilintar seperti familiar dengan wajah itu.

Terlebih sepasang mata coklat bening itu. Mata yang bergetar saat melihat nya. Untuk beberapa alasan Halilitar tidak bisa mengalihkan diri dari mata tersebut.

“T-Tuann…?”

“Hm.” Halilintar segera kembali ke kewarasannya. Sejenak dia tidak percaya bahwa untuk beberapa saat dia teremenung mengingat sesuatu saat melihat budak di depannya,

Sampai di mana tadi? Oh ya Halilintar harus memutuskan harus melepas atau menghukum budak itu.

“Kembali esok pagi. Jika besok aku masih menemukan dirimu di sini, aku tidak akan segan.” Yahh…untuk kali ini Halilintar akan mengampuni nya.

Budak perempuan itu mau tidak mau tersenyum dengan bibir kering nya, “Terima kasih atas kebaikan , Tuan Kesatria.” Kepala nya kembali menunduk.

Halilintar mendengus, “Sebelum itu, bersihkan dirimu. Kau sangat kotor dan bau.” Perkataan nya langsung membuat kedua pipi kusam budak itu memerah malu.

Padahal Halilintar pernah bermadikan darah musuh-musuh nya tapi dia tidak pernah mengeluh.

“Sebukan namamu.”

“Nama saya Yanaya, Tuan.”

Yanaya? Biasa sekali. “Pergilah.”

“Baik Tuan. Terima kasih sekali lagi.”

Perempuan itu lekas mendekati sungai. Seraya menjaga jarak agak jauh dengan Halilintar. Hingga sosoknya tidak terlihat lagi.

**

“Ya tuhan. Aku mengira aku akan mati.” Yanaya ambruk di tepian sungai. Butuh agak lama baginya untuk menghentikan tubuh nya yang gemetar. Rasa takut dan ngeri saat pria bermata merah itu mengacungkan pedang, benar-benar mengerikan.

Teringat dengan tujuannya untuk mandi, Yanaya menjadi dilemma.

Yanaya adalah seorang penduduk desa kecil Kerajaan TiMorLeste yang letaknya memang dekat dengan perbatasan Neosantara. Saat Kekaisaran menyerang desanya, Yanaya di tangkap sebagai jarahan perang dan menjadi budak. Dua hari yang lalu dia sampai di camp ini dan tidak pernah Yaya tidak gelisah setiap malam nya.

Yanaya sangat tahu nasip para perempuan tahanan perang. Menjadi tempat para prajurit melepas hasrat adalah takdir mereka di masa perang ini. Memang ada kasus beberapa perempuan menemukan jodoh mereka tapi kebanyakan tahanan perempuan tidak seberuntung itu. Di beberapa kasus budak wanita yang ditangkap hanya sedikit, tahanan perempuan bahkan harus rela di gilir hingga pagi.

Karena itu, Yanaya memilih bersembunyi. Dia tidak ingin tubuh nya di sentuh oleh pria asing dengan tidak berperasaan. Dengan sedikit keberuntungan Yanaya berhasil bersembunyi jauh dari Barak. Jika mulus, Yanaya akan kembali ke Barak saat fajar menyinsing. Dengan begitu Yanaya akan aman dari terkaman para prajurit.

Tapi keberuntungan Yanaya tidak berlangsung lama. Hanya sampai tengah malam, seorang Kesatria bermata merah menemukan nya.

“Huff…Kalau begitu aku akan mandi senbentar dan menunggu di sini. Aku akan kembali seperti rencana—saat fajar menyinsing.” Guman Yanaya.

Yanaya yakin semua orang sibuk. Setidaknya tidak akan ada orang yang ke tepi sungai tengah malam jadi sepertinya aman bila dia mandi. Soal Kesatria tadi…pasti dia sudah pergi setelah menyuruh Yanaya pergi.

Melepas pakaian lusuh nya Yanaya yang telanjang menceburkan diri pada sungai yang tidak terlalu dalam dan arusnya yang tenang. Air nya sangat dingin tapi Yanaya sudah biasa mandi air dingin di desa nya dulu. Membasuh wajah nya yang sengaja dia buat kotor.  Tidak lupa Yanaya juga membasahi rambutnya hingga rambutnya yang menggumpal bersih dari tanah.

Ah~ menjadi bersih memang sangat menyenangkan. Sejak dirinya di tangkap Yanaya tidak pernah mandi. Boro-boro mandi, untuk makan dan tidur saja Yanaya selalu was-was. Setidaknya untuk semalam ini saja…Yanaya ingin bersih dan segar.

Mungkin karena terlalu menikmati mandi pertamanya setelah sekian lama, Yanaya sama sekali tidak menyadari keberadaan seseorang. Seorang pria tinggi tegap dengan sebilah pedang di pinggangnya. Seorang pria bermata merah.

Saat berbalik, Yanaya merasa tubuhnya langsung membeku. Matanya menatap takut sosok kesatria bermata merah yang di kiranya sudah pergi dari sungai.

“T-Tuan?”

**

Halilintar mengutuk insomnia nya. Dia pikir setelah berjalan-jalan sedikit dia akan menemukan sedikit lelah dan mengantuk. Tapi sama sekali tidak berhasil.

Putra Mahkota Neosantara itu bangkit dari ranjang nya. Dia memijit pelipisnya yang sedikit pusing karena memaksa matanya tidur tapi tidak berhasil. Terlebih setiap kali Halilintar memejam mata, dia selalu mengingat bayangan gadis merah muda itu.

“Siapa kau…? Aku percaya kau nyata dan bukan halusinasi semata.” Guman Halilintar sakit hati kala mengingat gadis penolongnya. Gadis cantik bermata coklat bening yang bisa terbang dan beraroma cherry. Dimana dia sekarang? Halilintar sangat ingin menemukan gadis itu tapi mengingat semua usaha berakhir nihil, dia kembali menghela nafas kecewa.

Namun tak lama bayangan lain muncul. Mata coklat bening lainnya.

Apa budak tadi sudah kembali ke barak? Yanaya kan namanya? Besok Halilintar akan bertanya pada prajurit yang menjaga barak sekaligus menghukum mereka.

Entah apa yang menarik Halilintar, Pangeran Mahkota itu mengambil pedangnya kemudian berjalan kembali ke tempat dia menemukan budak tahanan tadi. Sepi. Tapi tak lama Halilintar mendengar gemercik air.

Mengikuti instingnya Halilintar berjalan ke arah suara. Seratur meter dari lokasi sebelumnya, Halilintar menemukan pemandangan tidak biasa dan membuat nafasnya tercekat.

Di bawah sinar bulan yang terang, sosok tubuh langsing yang basah terlihat jelas oleh mata Halilintar. Dia bisa melihat bagian tubuh yang tertutup kain jelek sebelumnya menyembunyikan harta tak ternilai seorang wanita. Bongkahan pantat sempurna. Lengkungan pinggang menggoda. Buah dada bulat yang indah. Lalu wajah itu—sialan! Cantik sekali.

Seolah-olah Halilintar telah terhipnotis. Sebagai pria Halilintar harus mengakui keindahan di depannya nyata dan dai tidak mengelak bahwa dia tertarik.

Yanaya, perempuan itu seperti asik hingga tidak menyadari Halilintar menatap tubuh telanjangnya secara bebas. Halilintar sendiri tidak memiliki niat menyembunyikan keberadaannya. Justru sebalikanya…

“T-Tuan?”

Halilintar ingin budak itu tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan besar karena berani menarik sisi primitif nya ke permukaan.

“Hm.” Halilintar membalas dengan gumanan tak jelas. Mata merahnya masih dengan kurang ajar menatap tubuh telanjang Yanaya. Saat perempuan itu menyembunyikan tubuhnya ke dalam sungai, semua sudah terlambat. Kilat tidak biasa bangkit dari mata merahnya.

“Kemari lah.”

Halilintar tahu Yanaya ketakutan saat mendengar perintahnya. Budak itu takut dengan apa yang akan Halilintar lakukan kepada nya yang masih telanjang.

Tapi Halilintar sudah bilang, sudah terlambat.

“Aku tidak suka mengulang perintah ku. Kemari.” Halilintar menjadi tidak sabar. Bayangan tubuh Yanaya terus-menerus berputar dalam otaknya. Mengakibatkan panas mendera tubuhnya sedikit demi sedikit.

Perlahan Yanaya mendekati Halilintar. Pria itu tahu Yanaya tidak bisa membangkangnya. Perempuan tipe Yanaya adalah jenis perempuan lemah atas laki-laki. Terlebih pada kasta yang lebih tinggi.

Mata merah Halilintar tidak pernah meninggalkan Yanaya hingga akhirnya budak itu berdiri di hadapannya. Yanaya memeluk tubuh telanjangnya dengan kedua tangannya. Menutup payudara dan selangkangannya dari pandangan pria di depannya. Tapi sekali lagi, itu sia-sia.

“Duduk di atas batu itu dan buka lebar-lebar kaki mu.” Seraya memberi instruksi Halilintar turut melepas sabuk pedangnya, membiarkannya tergeletak di tanah dan membuka sepatu boot nya.

Tubuh Yanaya bergetar. Perempuan itu tidak berani bergerak—menunduk takut. Tapi Halilintar lagi-lagi tidak peduli. Sudah jelas kemana ini akan berakhir dan Yanaya tidak berhak menolak nya.

Budak itu harus tahu dengan siapa dia berhadapan.

Halilintar berdiri sangat dekat dengan Yanaya, berbisik di telinga sang budak, “Aku adalah calon rajamu. Jika kau bersikap baik aku akan memastikan hidup mu sebagai warga ku akan terjamin setelah perang selesai.”

Kepala Yanaya langsung terangkat. Mata coklat beningnya langsung bersitatap dengan mata merah Halilintar yang tersenyum miring. “An-Anda Yang M-Mulia Pangeran Halilintar—??” sangat jelas perempuan itu sangat terkejut dengan identitas Halilintar.

“Hn ya. Apa kau masih akan tidak akan menuruti keinginanku?” Tidak ada orang gila yang berani mengaku sebagai Putra Makkota Kekaisaran Neosantara yang Agung. Jadi Yanaya harusnya percaya dia adalah asli pewaris Kekaisaran ini.

Kemudian Yanaya bergerak mundur. Meski dengan tubuh yang masih tergetar, budak itu harus menjalankan perintah seorang Royal. Terlebih Yanaya tergoda dengan tawaran hidup terjamin sebagai rakyat Kekaisaran.

Yanaya menduduki sebuah batu besar di tepi sungai. Membuka kakinya sesuai perintah meski dengan mata terpejam dan tangan tidak berhenti gemetar.

“Buka kaki mu lebih lebar lagi.” Nafas Halilintar semakin memburu.

Pemadangan di depannya membuat nafsu laki-laki nya melonjak gila-gilaan. Tubuh Yanaya yang tidak lagi kotor ternyata sangat putih dan mulus—minus luka gores nya. Segala sesuatu nya sangat cantik hingga Halilintar merasa tidak sabar ingin mencicip tubuh menggiurkan itu.

Halilintar bahkan tidak perlu melepas celananya. Dia hanya menurunkan nya sebatas paha untuk membebaskan kejantanannya yang telah mengacung tegak. Layaknya seekor predator mengamati mangsanya, Halilintar mendekat dan mengurung tubuh Yanaya yang tidak berdaya dan kecil di bawah tubuh bidang nya.

Halilintar bisa merasakan tubuh budak di bawahnya menjadi tegang saat dia menyentuh dan menggesek lubang cantik itu dengan miliknya, “Apa kau perawan?”

Sembari menggigit bibirnya Yanaya menggeleng sebagai jawaban, “S-Saya sudahh menikah—Ya-Yang Mu-lia…suami saya men-ninggal saat perang.” Jawabnya menahan tangis.

Ah…seorang janda muda. Kalau begitu Halilintar tidak perlu ragu kalau begitu.

*Menusuk

“AKH!” punggung Yanaya melengkung karena penetrasi yang tiba-tiba. Dia merasa tubuhnya seperti terbelah oleh kejantanan sang Royal yang sangat besar untuk miliknya yang kering.

“Ugh sempit.” Halilintar menggeram nikmat merasakan betapa erat lubang yang dia masuki menjepitnya. Tidak membuang waktu Halilintar menggerakan pinggulnya dengan kecepatan penuh. Menumbuk liang sempit sang budak dengan tempo keras dan cepat.

“Ah Ah Haa Ah… terlalu…cepat…”

Halilintar mendesis. Nafasnya memburu seiring dia masuk dan keluar dari daging lembut nan panas Yanaya yang luar biasa nikmat. Tujuh belas tahun hidupnya, ini adalah pertama kalinya Halilintar menyentuh wanita secara intim. Dan Halilintar tidak menyesal mencoba pertama kalinya dengan Yanaya. Budak ini sangat ketat dan sempit seperti perawan.  

“Ya-Yang Muliahh Ah Haa—“

“Hm…? Kenapa?” bahkan di saat nafsu menguasai Halilintar menolak menunjukkan desahannya. Dia berfokus menumbuk daging lembut di antara kedua kaki Yanaya dengan kejantanannya yang berdenyut kesenangan.

“Pel-pelan-pelan…tolong..ah ah AHH!”

“Hm.” Namun bukannya menurunkan temponya, Halilintar semakin gencar menyatukan tubuh bawah mereka. Ego nya sebagai pria muda merasa sangat puas karena mampu membuat lawan nya bergeliat kacau di bawah kuasa nya.

“Aaaa—Jangan—disana…”

Seolah belum cukup menyiksa Yanaya, Halilintar juga menggoda payudaranya. Dua gundukan bulat itu terus bergoyang cepat naik dan turun. Halilintar dengan sengaja menarik dua putting nya lalu memelintirnya keras. Sontak perbutannya bersambut rintihan bercampur desahan sang budak yang cantik.

“Hm…pelankan suara mu. Apa kau mau orang lain melihatmu begini?” pinggul Halilintar menghentak kasar hingga masuk bagian terdalam Yanaya, “Melihat mu mendesah seperti jalang,” Satu tusukan sangat dalam Yanaya terima hingga punggung nya melengkung seperti busur, “Membuat mereka ingin mencicipi tubuhmu…itu yang kau mau, hm?” Yanaya kembali tersentak saat pria di atasnya menghujam inti miliknya dengan kasar.

“Ti-tidak…” Yanaya mati matian menahan desahan. Kedua tangannya mencengkam batu hingga menyakiti telapaknya sementara dia tubuhnya terus menerima hujaman kasar dari kajantaran besar yang terus keluar masuk dari vagina nya.

“Ugh…” Halilintar sendiri semakin kesulitan menahan desahannya.

Kenikmatan yang dia terima saat miliknya menyentuh bagian terdalam Yanaya terasa sangat menakjubkan. Itu menghisap kejantanannya sangat erat hingga Halilintar terus ketagihan menumbuk bagian tersebut.

Hingga pada satu titik, di saat kedua tubuh mereka bersimbah keringat, Halilintar merasa kepala nya memutih lantaran sedotan kuat dari liang yang di gali. Saat itu pria itu tahu Yanaya telah mencapai pelepasannya. Kepala miliknya bisa merasakan gelombang panas membasahi nya dari dalam. Tapi Halilintar masih jauh dari itu.

“Y-Yang Mu-lia b-biarkan s-saya—“

“Tutup mulutmu ssstttt—ah…” Halilintar tidak ingin mendengar rengekan Yanaya—mendesis tertahan di sela dorongan pinggul nya.  

Pria muda itu tanpa belas kasihan terus menghujam vagina budak di bawah nya dengan tidak beraturan. Fokusnya untuk mencapai kenikmatannya sendiri. Tidak dia hiraukan Yanaya yang merancau kesakitan. Halilintar benar-benar tuli karena merasa sesuatu akan meledak dari dirinya.

Ah ya Halilintar merasakan nya. Seakan seluruh darah mengalir ke tubuh bawah nya, Halilintar semakin brutal menumbuk satu titik nikmat yang terus menghisap nya.

“AKH Sial!” pada tumbukan terakhir, Halilintar menenggelamkan miliknya sejauh mungkin dalam liang Yanaya dan melepas hasrat nya. Bersamaan sang budak yang juga melepas puncaknya yang kedua kali nya.

Saat merasa tidak ada lagi yang keluar, Halilintar menarik kejantanan nya tanpa ragu dari liang basah Yanaya. Dia mundur dua langkah dan membuang nafas panas. Mata merahnya tidak meninggalkan tubuh lemah Yanaya yang kepayahan menerima serangan nafsunya. Wanita itu bahkan tidak mampu menutup kakinya hingga membuat Halilintar bebas melihat bagaimana lubang sempit yang memanjakan nya sebelumnya meneteskan cairan putih campuran dari keduanya.

Sial nya pemandangan itu justru membuat nafsu Halilintar naik lagi dan keperkasaannya kembali mengeras. Putra Mahkota Neosantara itu mengingat lagi bagaimana lubang Yanaya menjepit nya sangat nikmat. Keinginan untuk merasakannya lagi mendorong Halilintar kembali mendekati tubuh telanjang sang budak.

“Aa-ah Yang Mulia—tolong jangan lagi—saya—saya…”

Yanaya panik saat tubuhnya di balik menjadi tengkurap di atas batu kasar. Dia memohon belas kasihan Halilintar untuk tidak lagi menyiksa nya. Tapi saat dia merasakan benda panas besar menembus nya dari belakang, Yanaya tanpa pilihan kembali mendesah sakit sekaligus nikmat.

“Hn, sekali lagi.” Halilintar menusuk daging lembut nan panas dengan tempo lambat namun bertenaga hingga menyentuh pintu rahim Yanaya. “Malam masih panjang…Yanaya.” menarik kedua tangan Yanaya, Halilintar mulai menusuk dengan kecepatan yang membuat sang budak menjerit.

Yanaya dari awal tidak memiliki pilihan. Dari saat dirinya di tangkap sebagai tahanan perang, nasib nya sudah jelas. Menjadi budak penjajah. Tubuhnya bukan lagi miliknya. Dan sekarang seorang Royal, seorang Putra Mahkota Kekaisaran hebat Neosantara, sedang menggunakan tubuhnya. Yanaya tidak bisa menolak dan menerima segala yang Halilintar berikan pada nya.

Malam itu, berkali-kali sang Putra Mahkota mencapai puncak kenikmatannya. Menumpah kan benih Kekaisaran ke dalam rahim Yanaya yang pasrah di menampung milik nya. Perempuan itu terus dan terus harus menahan sakit sekaligus nikmat setiap kali Halilintar menembus dirinya. Bergerak kasar serta dalam. Mempermainkan tubuh Yanaya seolah milik nya.

Lalu setelah ratusan hujaman, Halilintar mendorong kuat-kuat  pinggul nya dan sekali lagi melepas lahar panas ke dalam tubuh Yanaya yang tidak lagi kuat bersuara dan akhirnya pingsan. Pria muda bermata merah itu terengah. Tubuh nya sama telanjang nya dengan Yanaya setelah di ronde ketiga Halilintar merasa begitu gerah dan melepas semua pakaian nya.

“Ugh…” Halilintar mendesah. Milik nya akhirnya mencapai titik puas nya setelah berulang kali bercampur tubuh dengan budak cantik di bawahnya. Dan mengingat betapa nikmat persenggamaan pertama nya, Halilintar tidak memiliki kekecewaan sedikit pun.

Justru sekarang Halilintar memiliki pemikiran gila untuk nya dan budak perempuan bernama Yanaya ini. Dia menyeringai sembari menatap Yanaya yang pingsan.

“Saat nya kembali.”

.

.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Night

The Crown Prince’s Woman [ Part II ]