The Crown Prince’s Woman [ Part II ]
Spesial Chapter “The Crown Prince’s Woman” [Part 2]
By Ellena Nomihara
Di Garis Depan Perang Melawan Karajaan TiMorLeste
Pasukan Kekaisaran Neosantara yang berjumlah dua ratus ribu sedikit demi sedikit mampu mendorong mundur musuh. Bahkan tak jarang pembantai sepihak terjadi. Pasukan yang di pimpin Putra Mahkota Halilintar, Pangeran Taufan serta Lima Jendral Besar tidak henti dan terus memaksa musuh untuk menarik pasukan nya hingga kini setelah lima hari lebih dari setengah wilayah Kerajaan TiMorLeste berhasil di duduki.
Slash—tebasan pedang
Ting—Pedang saling bertabrakan
Bruk—mayat berjatuhan kehilangan nyawa.
Entah sudah berapa banyak musuh yang telah mati di tangannya, Halilintar terus mengayunkan pedang nya. Wajah dan armor nya telah bersimbah darah namun itu sama sekali tidak menghentikan keakuratannya membunuh musuh yang berani datang padanya.
Slash—menebas!!
Seonggok mayat baru saja jatuh tepat di belakang Halilintar yang lansung berbalik. Hanya untuk menemukan Taufan yang sedang tersenyum gila.
“Kak Hali berutang satu padaku.” Ungkap Taufan tertawa puas.
Mendengus, Halilintar maju dengan pedang menghunus ke depan.
Ting—Slash
Cipratan darah mengotori tanah, “Sudah lunas. Pergi Taufan. Aku ingin bagian ini selesai besok.” Perintah Halilintar setelah dengan mudah menahan serangan musuh dari belakang Taufan dan membunuh nya dengan cepat.
Taufan sedikit jengkel tapi tidak membantah dan segera fokus membunuh lebih banyak musuh. Dia juga ingin bagian ketiga perang ini cepat selesai. Dengan berhasil nya lebih setengah wilayah di kuasai, maka yang tersisa adalah wilayah Ibu Kota Kerajaan TiMorLeste sekaligus tanda perang ini akan mencapai puncak nya jika mereka berhasil membantai seluruh Royal Kerajaan musuh.
“Ck, kenapa dia terlihat bersemangat sekali sih?”
Taufan sedikit aneh dengan kakak kembar nya yang terlihat berbeda. Tapi karena dia sendiri tidak terlalu pintar membaca ekspresi Halilintar jadi dia tidak curiga apapun selain kakak nya mungkin sedang lelah.
“UNTUK NEOSANTARA!!” seru Taufan seraya mengacungkan pedang nya ke langit.
““UNTUK NEOSANTARA!!!””
**
Yanaya terbangun di tempat asing. Tempat itu bukan Barak Barat para patahan dan bukan pula tepian sungai semalam. Dia berada di dalam sebuah tenda besar yang memiliki barang-barang yang mewah. Semewah yang bisa petinggi dapatkan di medan peperangan. Lalu saat Yanaya melihat lambang kebesaran Kekaisaran Noesantara, dia tahu dia berada di tenda milik sang Putra Mahkota, Halilintar. Terlebih ranjang yang di tempati nya memiliki wangi pria yang memeluk nya sepanjang malam.
Mengingat malam kemarin Yanaya tidak tahu harus menangis atau marah. Kedua pilihan itu juga tidak berguna karena apa yang terjadi tidak bisa diperbaiki. Yanaya adalah budak, dan Halilintar bisa di katakan adalah Tuan Pemilik Camp ini. Bisa berkesempatan melayani pewaris Kekaisaran besar semacam Noesantara seharusnya menjadi kehormatan bagi wanita kasta rendah seperti nya. Tapi tetap saja, Yanaya merasa dirinya kotor membiarkan orang asing merauk kenikmatan dari tubuh nya. Sedangkan suami nya belum lama meninggal.
Terlebih bukan nya Halilintar lebih muda dari nya? Yanaya berusia dua puluh lima tahun dan pria semalam…tujuh belas tahun? Usia dewasa seorang pria adalah enam belas tahun. Secara hukum Halilintar adalah pria dewasa tapi untuk Yanaya di buat sedemikian kacau oleh yang lebih muda delapan tahun dari nya agak memalukan.
Meski tidak munafik, sedikit nya Yanaya menyukai kenikmatan semalam.
“Aku harus pergi.” Yanaya beranjak dari ranjang. Tapi baru dia menggerakkan paha nya Yanaya merasa sangat pegal dan kebas. Bagian inti nya sangat sakit dan keram terasa di sekujur tubuh nya. Baru Yanaya sadari bahwa dia tidak memiliki busana apapun dan hanya selimut yang menutupi ketelenjangan nya.
“Ini…” Yanaya bingung.
Tak lama seseorang masuk ke dalam tenda. Dia adalah seorang pria tinggi dengan busana hitam. Meski hari terang benderang sosok pria di depan nya seperti nya tidak merasa kepanasan menutup wajah nya dengan kain.
Yanaya menutup tubuh nya dengan selimut. Dia takut karena tidak tahu harus berbuat apa selain menunduk tidak berani menanyakan urusan pria itu. Lalu tiba-tiba sebuah nampan berisi makanan tersaji di depannya. Menggoda perut nya yang kelaparan.
“Makan itu.” Pria itu tak lama mengeluarkan sebuah kain putih dan meletakkan nya di samping nampan. “Lalu pakai itu. Atas perintah Yang Mulia Pangeran Mahkota, budak Yanaya tidak perbolehkan keluar dari tenda ini dan menunggu perintah selanjut nya.” Seakan sedang membaca sebuah teks, pria itu berbicara datar tanpa emosi berarti.
Yanaya terkejut mendengar hal itu, “S-Saya tidak diperbolehkan kembali ke…barak?”
Pria itu, Pang, menjawab, “Budak Yanaya sekarang akan bertugas menemani Yang Mulia Pangeran Mahkota. Bersikap lah bila kau tidak ingin mati.” Setelah mengatakan itu Pang pergi meninggalkan Yanaya terpaku.
“Itu artinya…aku harus terus melayani Putra Mahkota?”
Yanaya benar-benar tidak tahu ini sebuah kutukan atau berkah.
***
Lima hari setelah Yanaya terbangun setelah malam panas dengan pewaris Kekaisaran Noesantara. Dia perlahan mengetahui bahwa Halilintar dan pasukannya telah berangkat berperang lagi di pagi buta saat Yanaya masih terlelap lelah.
Di tambah dengan hari ini sudah genap enam hari Yanaya menempati tenda mewah tersebut. Tenda yang hanya diperuntukan oleh petinggi Kekaisaran, tidak pernah sekalipun Yanaya tinggal di dalam nya tanpa rasa cemas. Perempuan itu selalu memiliki perasaan cemas dan gelisah memikirkna sekarang dia harus melayani Halilintar, Pewaris Noesantara.
Yanaya memikiran apa yang membuat Halilintar tertarik membuat Yanaya melayani nya/ Sepengetahuan nya, Pangeran Mahkota Neosantara itu tidak tertarik dengan perempuan—atau setidaknya belum. Mungkin karena semua pelatihan yang di jalani nya, di tambah sifatnya yang tenang juga dingin, membuat Halilintar tidak begitu tertarik memeluk wanita. Berbanding terbalik dengan adiknya Pangeran Taufan, Jejak hari pertama dia dibawa ke Camp sudah tahu bahwa sang pangeran menyenangi kegiatan malam bersama perempuan. Tidak heran, kebanyakan orang militer memang begitu.
Kebutuhan makan Yanaya datang tiga kali sehari. Pagi, siang dan sore. Tiap waktu menu nya selalu berbeda dan lezat—lebih lezat dari yang dia dapat di Barak barat. Yang membawa nya sama seperti pertama kali, adalah pria berbusana hitam dengan kain menutup wajah nya dari hidung sampai dagu. Sementara air mandi di antar oleh seorang prajurit yang tidak pernah mengatakan apapun kepada Yanaya.
Semua pelayanan itu...untuk beberapa waktu Yanaya berpikir apakah dia mendapatkan nya karena sekarang dia adalah wanita penghangat sang Putra Mahkota? Yanaya merasa dirinya di manja bahkan hanya karena kebetulan dia menghabiskan satu malam dengan Halilintar. Pertama Yanaya sangat tidak berani dan ragu menggunakan semua fasilitas itu tapi Pang berkata dia harus bersikap baik. Sebelum perang berakhir, status Yanaya adalah seorang budak. Tidak ada nilai lebih yang dimiliki nya selain tubuh nya. Yanaya harus bertahan dengan cobaan ini dan jika beruntung Halilintar akan melepas nya dan pada akhirnya bisa bebas menjadi rakyat Kekaisaran Neosantara.
Dengan pemikiran itu, Yanaya mulai merawat tubuh nya. Entah perintah atau bukan, sesekali Pang akan datang mengantar seperangkat benda yang Yanaya tahu produk perawatan kulit wanita kepada nya lalu pergi tanpa kata. Yanaya tidak mengetahui semua fungsi nya jadi Yanaya hanya menggunakan selep untuk memudarkan luka goresnya dari masa lalu dan lalu shampoo untuk rambut nya dan…sabun yang memiliki wangi terharum.
Satu-satu nya kekecewaan Yanaya adalah pakaian. Untuk beberapa alasan Pang tidak memberikan dia pakaian selain baju berwarna putih polos tanpa lengan dan panjang hingga lututnya. Dia pernah sekali meminta gaun(daster) yang biasa digunakan gadis desa tapi Pang tidak mendengarkannya sama sekali.
Begitulah kesaharian Yanaya. Berdiam diri di dalam tenda. Sesekali membersihkan barang-barang di dalamnya. Ada beberapa buku di atas meja tapi Yanaya tidak bisa membacanya. Lahir dan besar di desa kecil Yanaya hanya tahu beberapa huruf untuk dibaca dan di tulis serta menghitung uang untuk berdagang. Kemewahan seperti membaca buku tidak diperkenan kan untuk rakyat kecil di Kerajaan TiMorLeste.
Kemudian Yanaya mendengar suara terompet. Dia mengenali itu sebagai tanda bahwa pasukan yang berangkat ke medan perang telah kembali. Dan tanpa alasan yang jelas Yanaya menjadi gugup.
Derap langkah terdengar di mana-mana. Seruan demi seruan para prajurit yang sibuk di luar sana. Semakin ramai dan Yanaya merasa camp menjadi lebih sesak.
Apa Kekaisaran menang lagi? Yahh Yanaya sudah tahu bahwa tidak mungkin TiMorLeste bisa menang melawan Kekaisaran besar seperti Neosantara. Semua orang tahu itu. Cuma masalah waktu saja Kerajaan nya tinggal menjadi kekuasaan Neosantara.
Apa mereka membawa lebih banyak tahanan? Mungkin saja. Akan ada pesta bagi prajurit nanti malam. Para tahanan wanita harus bersiap.
Yanaya pun…harus siap. Dada nya berdebar memikirkan apa yang terjadi saat pemilik tenda masuk.
Tapi kegugupan Yanaya tidak bersambut hingga menjelang malam. Dua belas jam setelah dia mendengar kedatangan pasukan kembali, Halilintar belum kembali ke tenda ini.
Kemana Yang Mulia? Apa Pangeran Mahkota tidak selamat? Tidak mungkin. Meski masih muda ketenaran Tiga Anak Kembar Raja Amato dari Kekaisaran Noesantara sangat di kenal jauh.
Si Sulung, Halilintar, All Rounder Perfect. Baik itu akademis atau non-akademis, tidak ada yang lebih sempurna dari nya.
Si anak tengah yang Hiperaktif. Yang Perkasa Taufan. Si jenius pedang dan gila bertarung. Ada yang bilang setelah mencicip seru nya perang, Taufan akan mulai mengganti kan sang Ayah dari setiap peperangan dalam peluasan wilayah.
Si Bungsu yang Manipulatif. Gempa si Rubah. Yang paling ramah dan mudah di ajak bicara. Di gadang menjadi orang paling cerdas di Akademi Elemental. Di sebutkan Gempa adalah kandidat kuat menjadi raja setelah Halilintar meski rumor berkata Gempa menolak kesempatan itu.
Kenapa deskripsi Halilinar lebih pendek dari kedua saudaranya? Apa lagi yang bisa kau jelaskan jika aku sudah menulis “Sempurna” disana.
Sempurna. Halilintar sangat Sempurna. Calon Terbaik menjadi Raja Neosantara di masa depan.
Jadi tak mungkin orang seperti Hailintar mati saat perang.
Larut dalam pikirannya, Yanaya terlonjak kaget saat tiba-tiba pintu tenda tersibak dan seseorang masuk begitu saja. Mata coklat bening nya bersirobok dengan mata merah yang menatap nya datar.
Di belakang sang pemilik tenda, seseorang berwajah serupa muncul.
“Hmm? Siapa si kecil ini Kak?” itu adalah Taufan, adik kembar Halilintar.
Tubuh Yanaya mengkerut tanpa di minta saat Taufan mendekati nya. Yanaya merasa dirinya sangat kecil di hadapan sang Pangeran yang memiliki tubuh dan otot besar. Lebih besar dari Halilintar.
Yanaya terkesiap saat dagu nya di tarik dan di paksa mendongak, “Cantik juga. Apa dia budak mu Kak Hali? Pada akhirnya kau mengambil barang bagus untuk mu sendiri ya.” Berbeda dengan mata merah Halilintar yang datar, mata biru Taufan menyiratkan sinar jahil serta nakal yang mengingatkan Yanaya pada beberapa prajurit yang menatap nya dulu, “Boleh ku cicip dia?” Yanaya hampir memekik saat Taufan tanpa kurang ajar menjilat pipi nya.
DUAG
Saat itu juga Taufan terbanting ke samping. Yanaya tidak sempat mencerna situasi karena tangan lain sudah manarik nya terlebih dahulu.
“Taufan, kau tahu aku tidak suka berbagi.” Ucap Halilintar tenang. Wajah nya sama sekali tidak terukir rasa bersalah atau marah kepada adiknya yang telah di tendang dan sengaja menggoda budak eksklusif nya.
Taufan mendesis jengkel dan bangkit berdiri, “Setelah umur lima tahun kau menjadi sangat pelit, Kak.”
Tepat seperti yang dikatakan Taufan. Halilintar tidak lagi berbagi apapun milik nya pribadi dengan kedua kembarannya. Alasannya? Awalnya si sulung hanya ingin memberi pelajaran dua adik nya yang berani mengatakan dia ‘berhalusinasi’ tentang gadis terbang. Tapi semakin lama menjadi kebiasaan bagi Halilintar untuk menyimpan milik nya sendiri.
Halilintar tidak peduli juga, “Pergilah Taufan.” usir nya pada sang adik.
Taufan mengangkat tangan menyerah, “Baik, baik. Aku akan pergi. Aku akan menggunakan budak lain saja. Aku akan menyuruh penjaga berjaga agak jauh. Selamat malam Kak.”
Saat akhirnya Taufan pergi, keadaan tidak menjadi lebih baik. Perasaan berdebar tadi pagi yang dia kira sirna karena terlalu lama menunggu, Yanaya merasakan nya lagi. Yanaya dapat mencium wangi segar dari tubuh Halilintar yang membelakangi nya. Apa dia baru saja mandi?
Sesaat kemudian kesadaran menghantam Yanaya. Dia buru-buru mundur dan bersujud di kaki Halilintar, “Salam kepada Pangeran Mahkota Neosantara. Semoga Kesehatan dan Umur panjang di berkati kepada Yang Mulia.” Hormat nya pada sang Royal.
“Bangun.”
Yanaya mengangkat tubuh nya dan berdiri. Di hadapan Halilintar Yanaya sama sekali tidak berani menatap langsung wajah sang pria. Kemudian Yanaya merasakan Halilintar berpindah lalu duduk di pinggir ranjang yang hampir seminggu dia tempati.
“Kau terlihat lebih baik.” Ujar Halilintar basa-basi.
Halilintar tidak salah. Dari pada Yanaya seminggu yang lalu yang kucal dan kotor, Yanaya yang sekarang nampak layaknya peri cantik yang tersesat. Penampilan nya yang kecil namun polos seolah menggoda tangan-tangan jahil untuk mengotori nya.
“Semua atas perhatian Yang Mulia. Terima kasih.”
Yanaya membungkuk dalam.
“Kemarin lah.”
Layak nya dejavu, Halilintar lagi-lagi memberi perintah tersebut. Menyuruh Yanaya untuk mendekat dengan suara nya yang dalam namun memikat. Bedanya kali ini Yanaya tidak bergetar ketakutan melainkan karena gugup di tatap sedemikian rupa oleh mata merah tersebut.
Saat sampai di depan Halilintar, Yanaya langsung bersimpuh. Kepala nya yang menunduk di tarik lembut ke atas oleh jari-jari panjang sang pria. Kini Yanaya menatap tepat sepasang mata merah sang pewaris.
“Pang merawat mu dengan baik,” Ibu jari Halilintar mengusap pelan namun bertenaga bibir bawah Yanaya yang kini merona merah muda. Tangan lain pria itu juga mengelus lembut surai coklat muda nya yang kini halus bagai sutra.
Lalu turun mengelus leher Yanaya yang terlihat jelas karena potongan kerah yang sedikit terbuka. Kemudian saat tangan Halilintar akan turun menyentuh gundukan lembut nya, Yanaya dengan tekad penuh menangkap tangan itu. Tindakannya menuai tatapan tajam sang Pangeran Mahkota.
“Yang Mulia…boleh kan saya meminta sesuatu sebelum saya melayani anda.”
Alis Halilintar terangkat sangat tipis, “Kau juga menjadi berani.” Yanaya menelan ludah takut. “Bicara lah.”
Yanaya bersyukur Halilintar tidak mencekik mati dirinya yang telah berani meminta sesuatu. Tapi sejak hari kedua nya di tenda ini, Yanaya telah memikirkan hal ini matang-matang.
“Saya adalah seorang janda dan tidak memiliki orang tua. Saya sendirian di dunia ini. Karena itu…saya memohon belas kasihan Yang Mulia Pangeran untuk membebaskan saya setelah perang berakhir dan mengizinkan saya menjadi warga anda.” Mohon Yanaya
Halilintar mendengar jelas permintaan tersebut, tapi dia perlu bertanya, “Aku menghancurkan Kerajaan mu, apa kau tidak jijik pada diri mu sendiri yang memohon pada ku?”
Mata Yanaya menunduk sebagai ganti wajahnya yang masih di tahan Halilintar, “Saya hanya rakyat kecil. Dendam politik atau kekuasaan bukan hak saya yang membalas. Bisa hidup dan makan berkecukupan sudah menjadi kemewahan bagi saya.” Jawab Yanaya.
Yanaya tidak melihat bagaimana seringai saaaaaaangat tipis terangkat di ujung bibir Halilintar, “Baik lah. Tapi dari pada menjadi entah apa saat perang ini berakhir, bekerja di istana, bukan kah lebih baik?”
Yanaya kembali menatap Halilintar. Bekerja di istana?
“Istana, Yang Mulia?”
“Hm. Menjadi pelayan ku. Tugas mu sama seperti pelayan istana lainnya tapi kau harus datang saat aku memanggil mu.” Maksudnya selain sebagai pelayan istana, Yanaya juga harus bersedia jika Halilintar membutuh kan dia melayani di ranjang begitu?
Yanaya memikirkan tawaran tersebut. Bekerja di istana sudah jelas menjamin kebutuhan harian nya. Dari makanan, pakaian bahkan di gaji. Meski dia harus ketambahan melayani Halilintar tapi pria itu tidak mungkin sering memanggil nya kan?
Pada keputusan nya, Yanaya mengangguk kecil, “Terima kasih atas belas kasih Yang Mulia.”
Mendengar jawaban Yanaya, Halilintar kali ini tidak menahan senyum kecil nya. Tindakan yang langsung membuat tubuh Yanaya merinding dan jantung berdebar kuat, “Apa kau meminum obat dari Pang?”
Obat? Maksudnya minuman pahit yang diberikan Pang di hari pertama dia bangun?
“Saya meminumnya Yang Mulia.” Jawab Yanaya
“Setiap kali ini selesai, kau harus meminum obat itu tanpa terkecuali. Obat itu untuk mencegah benih ku membuahi mu.” Jelas Halilintar seraya menggoda telinga Yanaya dengan jemarinya.
Saat mendengar hal ini, Yanaya menatap pria yang mulai berani mengelus lengan telanjangnya, “Yang Mulia, saya…” Halilintar menatap nya, menurunkan kain di pundak Yanaya, “…saya tidak bisa di buahi. Dokter mengatakan bahwa saya mandul.” Ada kesedihan dalam nada suaranya.
Menedengar kata terakhir sang budak, Halilintar sudah setengah jalan menelanjangi Yanaya. Dua gundukan lembut dengan puncak cherry yang kecil nan merah nampak menggoda mata Halilintar.
“Hn. Buka bajumu.”
Yanaya menuruti perintah. Dia berdiri dari duduk bersimpuh nya agar mudah melepas baju putih selututnya. Karena Pang tidak pernah memberinya pakaian dalam, dalam sekejab Yanaya polos sepenuh nya di hadapan Halilintar. Sementara itu sang pria menahan nafas nya yang sedikit tercekat.
Pemandangan indah di depannya mau tidak mau membuat Halilintar diam-diam meneguk ludah susah payah. Sesuatu di antara kaki nya mengeras melihat tubuh putih dan mulus Yanaya yang terawat. Mata merah nya menatap setiap inci lekuk tubuh perempuan di depannya dengan sorot nafsu.
Halilintar kemudian membuka celananya. Pangeran Mahkota itu tanpa malu mengeluarkan kejantanannya yang setengah mengeras tanpa melepas padangannya dari Yanaya.
“Puaskan aku.” Dengan satu perintah Yanaya kemudian berlutut di depan keperkasaan Halilintar yang terus dan terus menegang. Saat tangan kecil nya menyentuh benda panas tersebut, milik Halilintar semakin membesar dan berdiri tegak.
Yanaya bukan wanita polos di ranjang. Dia pernah melakukan ini dengan suami nya dulu. Karena itu Yanaya tahu harus berbuat apa. Sejujurnya perempuan itu takjub melihat ukuran Halilintar yang lebih besar dan panjang dari suaminya. Saat malam panas tempo hari Yanaya terlalu kacau untuk memperhatikan ukuran penis di depannya.
Pantas pagi nya dia tidak bisa bergerak.
Saat Yanaya mulai mengocok kejantanannya, perlahan Halilintar memejam kan mata. Dia mendesis nikmat dengan tangan kecil yang bekerja dengan baik. Lalu saat dia merasakan lidah basah menyentuh kepala kebesarannya, Halilintar menggeram.
Halilintar selalu mendengar dari Taufan bahwa saat penis pria berada di mulut wanita adalah hal tak terbantahkan kenikmatannya. Sekarang Halilintar membuktikan itu benar karena sekarang Halilintar mati-matian menahan desahan enak saat mulut Yanana menghisap milik nya kuat-kuat. Perempuan itu dengan ahli menggunakan lidah nya untuk menggoda lubang penis nya dan menggunakan tangan nya untuk memanjakan bola-bola nya. Kenikmatan yang menghantam Halilintar benar-benar tidak tertahankan.
Yanaya berusaha keras menyenangkan Halilintar dengan pengalamannya dulu. Menggunakan mulut dan lidah nya untuk melahap seluruh kejantanan Halilintar. Tapi karena sangat panjang tidak semua bisa masuk ke mulut kecil nya. Dan seperti nya Halilintar kurang puas dengan itu hingga mencengkram rambut Yanaya dan dengan kejam mendorong penis nya hingga masuk sepenuh ke dalam mulut sang budak.
Halilintar menjadi tidak sabaran. Kenikmatan yang diterima nya membuat nya gila dan dia ingin lebih. Maka tanpa memikirkan lawannya, Halilintar nekat memaksa masuk miliknya seluruhnya. Tanpa ragu dia memaju mundur kan penis nya ke dalam tenggorokan Yanaya yang menggeliat minta di lepaskan. Namun Halilintar tidak melepas nya dan terus memaksa Yanaya.
Sepuluh menit dalam siksaan, Yanaya akhirnya jatuh lemas setelah Halilintar berejakulasi dalam mulutnya.
“Uhuk…uhuk—uhuk…” Yanaya terbatuk parah. Mata nya memerah dan tenggorokan nya sangat sakit. Secara pribadi Yanaya tidak menyukai ini karena mendiang suami nya dulu juga sering menyiksanya dengan ini.
Lalu sebuah gelas berisi air terulur kepadanya, “Minum.”
Itu adalah Halilintar. Pria muda itu mungkin agak kasihan dengan Yanaya yang terus terbatuk dan memutuskan memberi sedikit air. Atau pria ini tidak mauYanaya cepat lelah karena mereka baru saja mulai.
“T-T-Terima Kasih Ya-Yang Muli-a…” padahal Yanaya sudah tidak lagi ketakutan kepada Halilintar. Ini karena tenggorokannya sakit suaranya menjad gagap.
Halilintar menatap dalam diam Yanaya yang meminum air dengan rakus lalu mengelus tenggorokan nya. Dia kembali duduk di pinggir ranjang nya setelah sengaja melepas celena nya. Kini Halilintar dengan keperkasaan nya yang berdiri tegak, duduk dengan agung nya seraya menatap diam sang budak perempuan.
Yanaya merasakan merinding menjalar ke seluruh tubuh nya. Saat mata coklat bening nya mendongak Yanaya hampir tidak bernafas menatap pria yang jauh lebih, terlihat sangat tidak manuisawi. Bahkan dengan ketelanjangan itu tidak membuat sang putra mahkota menjijikan dan cabul, sebalik nya. Halilintar layak nya sebuah dosa yang berbalut keindahan mutlak dan keagungan yang tidak bisa Yanaya sangkal.
“Berdiri.” Saat melihat Yanaya tidak lagi batuk, Halilintar kembali memberi perintah. Suara nya yang berat terdengar serak karena nafsu yang semakin berdesir dalam tubuh nya.
Yanaya berdiri patuh. Memperlihatkan tubuh polos nya secara bebas kepada sang Royal. Mengizinkan mata merah yang telah berkabut gairah menelisik setiap bagian tubuh nya.
“Kemari. Dan duduk disini.”
Yanaya menelan ludah tapi tetap mematuhi perintah tuan nya. Tubuh nya yang lebih kecil bergerak sangat perlahan saat mendudukan diri di pangkuan Halilintar. Sang budak sangat berhati-hati menyentuh pundak sang Royal dan menahan desahan yang hendak keluar saat paha dalam berserta bokongnya bertemu dengan kulit Halilintar yang panas.
Selanjutnya Yanaya tidak bisa tidak bergetar saat benda besar diantara kaki sang putra mahkota bergerak menggesek milik nya—menggoda daging lembut nya untuk mengeluarkan cairan basah nya.
“Berapa umur mu?” tiba-tiba pertanyaan tidak terduga terdengar. Sejenak Yanana tidak yakin kenapa Halilintar membuka percakapan ini sementara di bawah sana batang panjang nya semakin tidak sabar menggosok milik nya. Jujur saja Yanaya kesulitan berkonsentrasi.
“Sa-Saya dua pu-luh lima-Ah—!” punggung Yanana melengkung merasakan kedua tangan Halilintar mencengkram pipi pantat nya dan semakin liar menggesek milik mereka. Mereka bahkan belum bersatu dan Yanaya sudah pusing ingin meledak.
Selain itu Halilintar akhirnya memutuskan untuk mencicipi dua gundukan milk Yanaya. Mulut nya mencium halus kulit dada nya. Menggoda cherry tengah dengan hembusan nafas nya. Dan saat dia semakin merasa vagina yang tengah digesek nya semakin basah, Halilintar memakan payudara sang budak.
“Ti-dak! Janga—an sekal—igus—Ah—Haa—Ah!!!”
Halilintar tidak mendengar. Dia membiarkan Yanaya membasahi paha nya sementara dia asik mempermainkan payudara nya. Bahkan pria itu tidak ragu saat meremasnya kuat dan menggigitnya hingga Yanaya menjerit.
“Y-Yang Mulia…Dada saya—lepask—an….tolong…” Yanaya hampir menangis lantaran sakit di sekitar payudara nya yang sekarang tengah di hisap rakus bergantian oleh Halilintar. Perempuan itu meringis saat Halilintar bak menjelma menjadi bayi kehausan dan memeluk Yanaya erat lalu menyedot putting nya sangat kuat. Terus begitu hingga Yanaya merasa dia akan mendapat pelepasan nya lagi.
“Ti-tidak mun—gkin…! Hany-a dengan—dada saya…AAAH” Tubuh Yanaya menggelinjang kuat dalam dekapan kuat Halilintar yang memakan payudara. Lalu saat tubuh nya terkulai lemas, sang Royal akhir nya melepas mulut nya dari gundukan Yanaya yang sangat-sangat merah dan bengkak putting nya.
“Hn…mereka enak.” Ucap Halilintar datar—bermaksud memuji. Dan pria itu tidak bohong saat berkata dada Yanaya lezat. Saat ia melihat hasil kerja mulut nya pada payudara sang budak, Halilintar tersenyum kecil. Puas menyiksa sang budak.
“Pegang leher ku…Yanaya.”
Sekali lagi Yanaya patuh. Meski tubuh nya sudah lelah mendapat tiga pelepasan tapi dia sadar sang Royal belum memulai persetubuhan ini dengan benar.
Yanaya melingkarkan tangannya kepada leher Halilintar sementara sang pria menaikan pinggul nya, membimbing masuk kepala penis yang keras sempurna dan sangat panas.
“A-Ah…”
“Ugh…”
Baik Halilintar maupun Yanaya sama-sama mendesah dan menggeram saat kedua nya bersatu. Perasaan penuh di dalam perut nya membuat Yanaya sangat gatal ingin melepas sesuatu. Apalagi bahkan tanpa bergerak kepala kejantanan sang putra mahkota bisa menembus hingga sangat dalam.
Halilintar menggeram saat disambut keketatan yang sangat menakjubkan. Kenikmatan bertubi-tubi menghampiri nya saat berhasil masuk sepenuh nya. Vagina licin yang di tembus nya seolah senang bertemu denga nya dan rindu di gempur oleh nya.
Halilintar menyeringai tertahan, “Heh…begitu cabul. Kau sangat ingin aku memasuki mu ya?”
*MENUSUK*
“AHH!”
Punggung Yanaya melengkung. Tusukan kuat mengenai pintu rahim nya. Yanaya benar-benar dibuat gila saat Halilintar memompa milik nya dengan tempo cepat dan kasar.
“Jalang kecil! Berkata tidak mau di sentuh tapi kau kegirangan dengan penis ku di dalam mu.” *MENUSUK* Halilintar kembali menyentak dalam kejantanan nya sedalam mungkin. Hinaan nya yang kasar spontan keluar demi mengalihkan desahan nya lantaran liang sempit yang digali nya menjepit nya hingga dia hampir gila.
“Saat perang ini selesai…di istana ku…” Halilintar terus menusuk daging lembut sang budak dengan brutas, “Melayani ku saat semua orang tertidur,” Tangan Halilintar mencengkram satu payudara Yanaya yang memantul-matul liar dan menarik putting nya, “atau membuka kaki mu di atas meja kerja ku…” Halilintar mengirim hentakan sangat kuat hingga tubuh sang budak berguncang hebat, “Kau suka itu…Yanaya?”
“Huaahh—Ah—Haa-Ah Ah—Saya—Saya—AHHHH!” dengan semua siksaan itu tidak mungkin Yanana bisa berpikir. Bahkan suara nya sendiri tidak bisa mengikuti tempo gerakan Halilintar yang sangat cepat. Yanaya persis orang cabul yang tenggelam dalam kenikmatan penis laki-laki.
Sangat gila.
“Ugh sial! Renggang kan kaki mu!” Halilintar menggeram dan memaksa Yanaya membuka pahanya agar dia bisa masuk lebih dalam lagi. Dia mendesah tertahan karena frustasi dengan liang yang di gempur nya masih saja sempit hingga dia kesulitan bergerak.
“Ah Ah Ah—Yan-g Muliah—disana—Ha Ah!”
Kepala Halilintar tenggelam dalam leher Yanaya. Dia menggigit leher sang budak saat gelombang itu datang. Sang putra mahkota terus memompa vagina nikmat sang budak hingga pada tusukan terakhir Halilintar mengirim tiga semprotan panjang.
“AAHH!”
Yanaya akan pingsan. Kepala nya memutih oleh perasaan gila saat mendapat puncaknya. Apalagi perempuan itu tidak bisa menahan desahan saat Halilintar melepas benih dalam dirinya. Menyiram nya dengan cairan panas tepat di rahim nya yang tidak bisa dibuahi. Dia juga meringis merasakan sang Royal menggigit lehernya kuat hingga dia mengira sang pria hendak menghisap darah nya.
Hanya ada deru nafas terengah untuk beberapa saat. Hingga Yanaya memekik kecil saat tubuh nya di bawa oleh sang Royal untuk berbaring. Kini Yanaya berada tepat di bawah Halilintar yang melepas kaos nya dan memandang dirinya dengan nafsu yang belum padam.
Tanpa berkata apapun Halilintar kembali memompa kejantanan nya dalam vagina Yanaya. Sang pria memulai lagi ritme permainan nya yang cepat dan keras. Menghentak sangat dalam hingga ujung kepala penis nya menyentuh rahim Yanaya dan menyemburkan benih nya.
Selanjut nya yang terjadi sangat jelas. Halilintar tidak berhenti mencampur tubuh nya dengan budak baru nya hingga berjam-jam lamanya. Tusukan demi tusukan pria itu layangkan pada liang sempit yang memerah dan sangat basah.
Bermacam posisi persetubuhan. Halilintar mencoba segala kemungkinan dan posisi dimana tubuh nya bisa menyatu dan terus menyatu dengan Yanaya yang sepenuh nya memasrah kan diri.
“Ah Y-ang—Mulia---istirah—at-AH AH AH !”
Saat Yanaya mencoba meminta belas kasihan sang Royal, maka Halilintar akan menghukum nya dengan hujaman amat keras dan tidak mementingkan dirinya. Halilintar tidak mempedulikan bagaimana Yanaya yang pingsan tidak bisa menyeimbangi stamina Halilintar yang jauh diatasnya.
Tapi Halilintar tidak berhenti. Ego nya memerintahkan nya untuk menghancurkan dan menggunakan sang budak hingga hancur. Semakin dia menyentuh Yanaya, perasaan candu dan perasaan ingin memiliki semakin bergejolak dalam dirinya. Budak rendahan yang berhasil mencuci otak nya dengan tubuh indah dan liang sempit.
“Ugh SIAL!” pada hujaman terakhir Halilintar menggeram marah seraya menyemburkan lahar panas nya di dalam Yanaya yang tidak sadarkan diri. Halilintar melepas pegangan nya pada tubuh Yanaya dan mengeluarkan kejantanan nya dalam liang sang budak. Lalu terlihat lah vagina yang sangat merah dan basah serta meneteskan cairan milik nya yang tidak tertampung oleh Yanaya.
Halilintar mengatur nafas nya. Tubuh nya lelah tapi di lain sisi juga sangat segar dan ringan. Ini juga yang dia rasakan seminggu lalu setelah menggagahi Yanaya hingga keesokan harinya dia menyuruh pasukannya bersiap berperang di hari itu juga.
Kemudian Halilintar menatap Yanaya. Sang budak yang tertidur telanjang dan kaki mengangkang lebar. Mata merah Halilintar melihat tubuh putih Yanaya telah kacau dengan cupang merah di sana sini, gigitan serta lebam karena cengkraman tangan yang kuat. Tak lupa dengan keringat di sekujur tubuh nya yang justru memantulkan cahaya hingga Yanaya hampir terlihat mulia dan suci. Andai bukan karena inti nya yang bengkak karena di sodok brutal oleh Halilintar, orang lain pasti menganggap Yanaya adalah malaikat.
“Aku sudah gila.” Desah Halilintar pada diri nya sendiri.
Halilintar tahu perasaan nya kepada Yanaya murni karna nafsu semata. Tapi hal itu tidak mencegah perasaan lain seperti rasa ingin memiliki muncul. Setelah semua kenikmatan yang di cecap nya Halilintar memutuskan untuk menyimpan Yanaya di bawah kuasa nya.
Benar. Halilintar akan menjaga nya. Memberinya makan. Merawat nya dan membuat nya cantik. Memberikan pakaian terbaik. Dan sebagai imbalan Yanay akan terus memberinya kenikmatan batin dengan tubuh nya.
Terlebih Yanaya mandul. Seolah-olah takdir. Tidak ada yang lebih cocok menjadi penghangat ranjang Halilintar vir Mechamato, sang Pangeran Mahkota Neosantara, selain Yanaya, tanpa pusing bila di masa depan keturunan haram lahir. Budak cantik yang tidak bisa hamil. Hingga waktu nya tiba, Halilintar akan punya seseorang untuk memuaskannya.
.
.
.

Komentar
Posting Komentar